Jumat, 07 Juni 2013

tarian barongan

Tarian Barongan



image
Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat terutamanya di daerah Batu Pahat, Johor.

 Tarian Barongan Barongan menggambarkan kisah-kisah di zaman Nabi Allah Sulaiman dengan binatang-binatang yang boleh bercakap. Kononnya, seekor harimau telah terlihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Apabila terpandang harimau, merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Tiba-tiba Pamong (Juru Iring) bernama Garong yang mengiringi Puteri Raja yang sedang menunggang kuda lalu di kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama-sama binatang tadi. Tarian ini terus diamalkan dan boleh dilihat terutamanya di daerah Batu Pahat, Johor.


sumber :http://www.johordt.gov.my/pelancongan/page/tarian_tradisional

tarian zapin

Tarian Zapin


image
Salah satu bentuk tarian pergaulan masyarakat Melayu yang masih utuh dan popular dewasa ini ialah tari zapin. Dari perspektif sejarah perkembangannya tarian zapin telah menular luas di kalangan penggemar senitari di Malaysia ini telah mengalami pengubahsuaian dari segi bentuk dan ragamnya yang ternyata lebih tradisional sifatnya. Namun demikian banyak antara genre zapin tradisional ini tersebar hanya ke daerah-daerah tertentu sahaja dan salah satu daripada genre zapin tradisional yang dinamik dan anggun dikatakan masih terdapat di negeri Johor.
Di Johor zapin yang dikenali dalam dua bentuk iaitu Zapin Melayu dan Zapin Arab memperlihatkan perbezaaan dari segi unsur peradaptasiannya. Pada realiti kedua-duanya genre zapin itu berasal dari satu keseniaan masyarakat Arab yang di bawa Hadramaut. Keunikan tradisi Zapin Melayu terletak bukan sahaja pada kesatuan muzik dan peralatannya yang dipengaruhi oleh keseniaan Arab bahkan juga pada sifat segretasi penari dan penonton. Dalam konteks inilah keunikan tarian zapin begitu terserlah terutamanya pada ciri penghubungannya dengan keseniaan Islam yang dibawa oleh orang-orang Arab. Di Johor Tarian Zapin yang sudah diterima sebagai seni yang berunsur Islam yang berfungsi sebagai hiburan sama ada pada acara-acara sekular mahupun acara sambutan hari-hari kebesaran. Namun dari segi kelembutan dan kehalusan tradisi tarian itu sendiri, Zapin Melayu Johor walaupun ianya lahir dari adaptasi yang dilakukan ke atas Zapin Arab secara selektif namun tidak dapat disangkal lagi tarian zapin ini memperlihatkan lebih kehalusan dan keayuan geraknya dari Tarian Zapin Arab.
Satu hal yang menarik mengenai tarian Zapin Johor ialah keupayaan mewujudkan rasa persaudaraan penari dan pemuzik serta sifat esprik decorps yang dapat dimunculkan di kalangan mereka sekali gus mematahkan rasa malu penari-penari apabila menari di khalayak ramai. Secara simbolik gerak tari zapin ini menampakkan kepentingan usaha bersama dan bukannya usaha individu disamping meminggirkan persaingan antara pemain-pemain dalam kumpulan mahupun antara kumpulan, Ditinjau dari perspektif inilah, keunikan dan keistimewaan tarian Zapin Johor terserlah.

tarian kuda kepang

Tarian Kuda Kepang

Kuda kepang merupakan satu permainan tradisi yang amat digemari oleh penduduk Johor, terutamanya yang berketurunan Jawa. Kuda kepang berupa satu patung anyaman yang dibentuk seperti seekor kuda tanpa kaki. Ia diperbuat daripada buluh yang dianyam atau kulit binatang yang dicorakwarnakan untuk menjadi lebih menarik.
Lazimnya satu kumpulan kuda kepang mempunyai 10 hingga 15 orang penari. Salah seorang daripada mereka bertindak sebagai ketua (dayang). Pada peringkat awalnya, semua gerak geri penari adalah atas arahan dayang yang menggunakan tali untuk mengawal permainan. Tarian ini biasanya dipertunjukkan di majlis-majlis keramaian untuk memeriahkan lagi suasana seperti sewaktu menyambut orang-orang kenamaan, meraikan majlis perkahwinan dan di hari-hari perayaan. Terdapat berbagai pendapat mengenai asal usul tarian ini.
Ada pendapat yang mengaitkan asal usulnya dengan Wali Songo yang hidup di Tanah Jawa pada abad ke-15. Dalam usaha mengembangkan Islam di kawasan pedalaman di Jawa,Wali Songo menghadapi kesulitan untuk mendekati orang-orang di sana. Beliau mendapat idea untuk menari-nari sambil menunggang kuda. Dalam peralihan waktu, kuda-kuda itu ditukar dengan kulit binatang atau buluh bagi menggantikan kuda sebenar.Ada pula yang berpendapat asal usul tarian ini ada kaitan dengan Saidina Ali. Untuk meniru gerak langkah bala tentera Saidina Ali maka lahirlah tarian kuda kepang.
Pendapat lain pula menghubungkan asal usulnya dengan alam kayangan. Seekor kuda kayangan bernama Kuda Sembrani dikatakan turun di Jawa untuk mencari kawannya yang hilang. Setelah berjumpa mereka menari-nari keseronokan. Menurut kepercayaan, kuda kepang dikuasai oleh sejenis kuasa ghaib. Lantaran itu, satu upacara khas perlu dilakukan sebelum bermain. Jika ia gagal dilakukan mungkin sesuatu yang tidak diingini akan menimpa para pemain dan juga penontonnya. Upacara ini bermula dengan istiadat memuja roh. Setelah itu bomoh akan menjampi untuk istiadat membuka gelanggang yang biasanya berukuran 40m x 60m.
Bomoh juga akan menyediakan sajian untuk penunggu. Sajian itu ialah kelapa, beras, pisang masak, kemenyan, kain putih, jarum, benang, ayam putih, padi, telur dan bunga rampai. Bilangan minima penari ialah sembilan orang dan maksimanya 15 orang. Penari-penari ini biasanya terdiri daripada kaum lelaki sahaja. Tarian dicipta oleh guru yang mengajar kumpulan itu sendiri. Tarian-tarian yang selalu dipersembahkan ialah tarian Sola, Selendang,Pak Tani, Pucuk Rebung, Perjuangan, Mempertahankan Diri dan sebagainya. Lenggang-lenggok di dalam tarian ini dinamakan Lenggang Kiprah.

pengertian seni tari tradisional

                                  Pengertian  seni tari tradisional


Unsur utama yang paling pokok dalam tari adalah gerak tubuh manusia yang sama sekali lepas dari unsur ruang, dan waktu, dan tenaga.
Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika.
Beberapa pakar tari melalui simulasi di bawah ini beberapa tokoh yang mendalami tari menyatakan sebagai berikut.
Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2). Secara tidak langsung di sini Haukin memberikan penekanan bahwa tari ekspresi jiwa menjadi sesuatu yang dilahirkan melalui media ungkap yang disamarkan.
Di sisi lain ditambahkan oleh La Mery bahwa ekspresi yang berbentuk simbolis dalam wujud yang lebih tinggi harus diinternalisasikan.
Untuk menjadi bentuk yang nyata maka Suryo mengedepankan tentang tari dalam ekspresi subyektif yang diberi bentuk obyektif (Meri:1987, 12). Dalam upaya merefleksikan tari kedua tokoh sejalan.
Kesejalanan yang dikembangkan berhubungan dengan konsep tari masih banyak diperdebatkan. Hal ini terbukti masih belum komplitnya pemahaman tari itu sendiri yang berkembang di masyarakat. Laju pertumbuhan tari memberi corak budaya yang lebih variatif, dinamis, dan sangat beragam intensitas pendalamannya. Oleh sebab itu dalam beberapa tahun ke depan tari menjadi semakin memiliki aura yang diharapkan digali terus menerus.
Pengertian sinopsis seni tari dalam perkembangan berikut, tari disampaikan oleh Soedarsono bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia yang diubah melalui gerak ritmis yang indah. Sejalan dengan pendapat kedua tokoh terdahulu dalam buku ini, pada prinsipnya masalah ekspresi jiwa masih menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Pernyataaan yang mendasar tentang ekspresi jiwa manusia menjadi salah satu kunci tari menjadi bagian kehidupan yang mungkin hingga waktu mendatang selalu menjadi tumpuhan perkembangannya.
Dalam konteks yang masih sama Soeryodiningrat memberi warna khasanah tari bahwa beliau lebih menekankan kepada gerak tubuh yang berirama. Hal ini seperti terpetik bahwa tari adalah gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik atau gamelan diatur oleh irama sesuai dengan maksud tujuan tari (Soeryodiningrat: 1986, 21). Lebih jauh lagi ditambahkan CurtSach bahwa tari merupakan gerak yang ritmis (CurtSach: 1978, 4).
Tari merupakan salah satu cabang seni, dimana media ungkap yang digunakan adalah tubuh. Tari mendapat perhatian besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan alat ekspresi manusia sebagai media komunikasi yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja, pada waktu kapan saja.
Sebagai sarana komunikasi, tari memiliki peranan yang penting dalam kehidupan masyarakat. Pada berbagai acara tari dapat berfungsi menurut kepentingannya. Masyarakat membutuhkan tari bukan saja sebagai kepuasan estetis, melainkan dibutuhkan juga sebagai sarana upacara Agama dan Adat.
Apabila disimak secara khusus, tari membuat seseorang tergerak untu mengikuti irama tari, gerak tari, maupun unjuk kemampuan, dan kemauan kepada umum secara jelas. Tari memberikan penghayatan rasa, empati, simpati, dan kepuasan tersendiri terutama bagi pendukungnya.
Tari pada kenyataan sesungguhnya merupakan penampilan gerak tubuh, oleh karena itu tubuh sebagai media ungkap sangat penting perannya bagi tari. Gerakan tubuh dapat dinkmati sebagai bagian dari komunikasi bahasa tubuh. Dengan itu tubuh berfungsi menjadi bahasa tari untuk memperoleh makna gerak.
Tari merupakan salah satu cabang seni yang mendapat perhatian besar di masyarakat. Ibarat bahasa gerak, hal tersebut menjadi alat ekspresi manusia dalam karya seni. Sebagai sarana atau media komunikasi yang universal, tari menempatkan diri pada posisi yang dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja.
Peranan tari sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai acara yang ada dalam kehidupan manusia memnfaatkan tarian untuk mendukung prosesi acara sesuai kepentingannya. Masyarakat membutuhkannya bukan saja sebagai kepuasan estetis saja, melainkan juga untuk keperluan upacara agama dan adat.
Dalam konteksnya, beberapa unsur gerak tari yang tampak meliputi gerak, ritme, dan bunyi musik, serta unsur pendukung lainnya. John Martin dalam The Modern Dance, menyatakan bahwa, tari adalah gerak sebagai pengalaman yang paling awal kehidupan manusia. Tari menjadi bentuk pengalaman gerak yang paling awal bagi kehidupan manusia.
Media ungkap tari berupa keinginan/hasrat berbentuk refleksi gerak baik secara spontan, ungkapan komunikasi kata-kata, dan gerak-gerak maknawi maupun bahasa tubuh/gestur. Makna yang diungkapkan dapat diterjemahkan penonton melalui denyut atau detak tubuh. Gerakan denyut tubuh memungkinkan penari mengekspresikan perasaan maksud atau tujuan tari.
Elemen utamanya berupa gerakan tubuh yang didukung oleh banyak unsur, menyatu-padu secara performance yang secara langsung dapat ditonton atau dinikmati pementasan di atas pentas. Dengan demikian untuk meperoleh gambaran yang jelas tentang tari secara jelas.
Seperti dikutip oleh M. Jazuli dalam (Soeryobrongto:1987, 12-34) dikemukakan bahwa gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik adalah tari. Irama musik sebagai pengiring dapat digunakan untuk mengungkapkan maksud dan tujuan yang ingin disampaikan pencipta tari melalui penari (Jazuli, 1994:44).
Pada dasarnya gerak tubuh yang berirama atau beritmeritme memiliki potensi menjadi gerak tari. Salah satu cabang seni tari yang di dalamnya mempelajari gerakan sebagai sumber kajian adalah tari. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu bergerak. Gerak dapat dilakukan dengan berpindah tempat (Locomotive Movement). Sebaliknya, gerakan di tempat disebut gerak di tempat (Stationary Movement).
Hal lain juga disampaikan oleh Hawkins bahwa, tari adalah ekspresi perasaan manusia yang diubah ke dalam imajinasi dalam bentuk media gerak sehingga gerak yang simbolis tersebut sebagai ungkapan si penciptanya (Hawkins, 1990:2). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dirangkum bahwa, pengertian tari adalah unsur dasar gerak yang diungkapan atau ekspresi dalam bentuk perasaan sesuai keselarasan irama.
Di sisi lain Sussanne K Langer menyatakan, tari adalah gerak ekspresi manusia yang indah. Gerakan dapat dinikmati melalui rasa ke dalam penghayatan ritme tertentu. Apabila ke dua pendapat di atas digabungkan, maka tari sebagai pernyataan gerak ritmis yang indah mengandung ritme.
Oleh sebab itu, tari lahir merupakan ungkapan hasrat yang secara periodik digerakan sebagai pernyataan komunikasi ide maupun gagasan dari koreografer yang menyusunny
a.
Sependapat kedua pakar di atas, Corry Hamstrong menyatakan bahwa, tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang. Pada sisi lain Suryodiningrat seorang ahli tari Jawa dalam buku Babad Lan Mekaring Djoged Djawi menambahkan, tari merupakan gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan irama musik (gamelan) diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud tertentu. Soedarsono menyatakan bahwa, tari sebagai ekspresi jiwa manusia yang diaungkapkan dengan gerak-gerak ritmis yang indah. Dengan demikian pengertian tari secara menyeluruh merupakan gerak tubuh manusia yang indah diiringi musik ritmis yang memiliki maksud tertentu.
Dengan demikian dapat diakumulasi bahwa tari adalah gerak-gerak dari seluruh anggota tubuh yang selaras dengan musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu dalam tari. Di sisi lain juga dapat diartikan bahwa tari merupakan desakan perasaan manusia di dalam dirinya untuk mencari ungkapan beberapa gerak ritmis.
Tari juga bisa dikatakan sebagai ungkapan ekspresi perasaan manusia yang diubah oleh imajinasi dibentuk media gerak sehingga menjadi wujud gerak simbolis sebagai ungkapan koreografer. Sebagai bentuk latihanlatihan, tari digunakan untuk mengembangkan kepekaan gerak, rasa, dan irama seseorang. Oleh sebab itu, tari dapat memperhalus pekerti manusia yang mempelajarinya.
Untuk memperoleh pengertian tari lebih mendalam, maka diperlukan informasi tentang unsur tari, aspek tari, dan pendukung tari melalui sumber media dalam bentuk foto-foto, VCD/DVD serta media lain.

Jumat, 08 Maret 2013

TARI SAMAN



 Tari Saman





Tari dari Aceh ini disebut Tari Saman karena diciptakan oleh seorang ulaman yang bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah. Tari Saman mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.
sumber :